Sekedar berbagi saja, ini lagu keren abis sob.
Minggu, 02 Juni 2024
Jumat, 19 Mei 2017
Download Utada Hikaru - First Love.Flac with Lyric Terjemahan
Tabako no flavor gashita
Nigakute setsunai kaori
Anata wa doko ni irun darou'
Dare wo omotte 'run darou'
You are always gonna be my love
Itsuka dare kato mata koi ni ochitemo
I'll remember to love
You taught me how
You are always gonna be the one
Imawa mada kanashii love song
Atarashi uta utaeru made
Ugoki dasou to shiteru
Wasuretakunai koto bakari
Watashi wa kitto naiteru
Anata wo omotte 'run darou'
Itsumo anata dake no basho ga aru kara
I hope that I have a place in your heart too
Now and forever you are still the one
Imawa mada kanashii love song
Atarashii uta utaeru made
I'll remember to love
You taught me how
You are always gonna be the
Mada kanashii love song yeah
Now & forever ah...
Kamis, 25 September 2014
Mengatasi Modem ProLink PHS600 yang tidak langsung Deteksi Jaringan di Windows 8/8.1
Minggu, 13 April 2014
Entahlah 2
Sebelum langit biru.
Sebelum kehangatan matahari.
Sebelum mekarnya bunga.
Sebelum mimpi indah.
Memberikanmu jiwa dan hatiku.
Beri aku penawaran.
Untuk bisa mendampingimu.
Tidak ada orang dalam hati ini,
Sampai cintamu datang.
Membuka mataku.
Tidak ada orang yg mendampingiku,
Sampai cintamu datang.
Membuatku berjalan terus.
Tidak ada orang dalam hati ini.
Sampai cintamu datang.
Membuka mataku.
Sabtu, 12 April 2014
Entahlah
Seiring sang surya tenggelam,
petangpun menyelimuti awan.
Hingga fajarpun menyambut sang mentari.
Tersirat sebuah tanya dibenakku.
Akankah kita dapat bersama?
Sulit kumengerti semua ini. Rasa sayang, cinta, kesejukan jiwa kurasakan denganmu
Biarlah cinta suci ini menjadi dewa~dewi kahyangan yang akan selalu menjadi kiasan hari-hariku.
;)
Rabu, 09 Oktober 2013
Lagu Minang Baru (MP3 Minang Dilla Novera)
Langsung saja.
Kali ini saya posting lagu minang terbaru dari Dilla Novera album Risaunyo Hati.
Silahkan download dibawah ini:
1. Dilla Novera-Bayangan Cinto
2. Dilla Novera-Cinto Apo Adonyo
3. Dilla Novera-Cinto Duo Kota
6. Dilla Novera-Rindu Bakawan Sunyi
7. Dilla Novera-Rindu Takubua Dalam
9. Dilla Novera-Saketek Tapi Pasti
10. Dilla Novera-Sandiwara Cinto
Semoga lagu minang terbaru diatas bisa menghibur.... :D
Selasa, 18 Juni 2013
Puisi Cinta " Alunan Cinta "
Rasakan alunan rindu ini
Ingin rasanya aku memeluk erat dirimu
Takkan pernah ku lepas
Agar kamu tahu betapa aku merindumu
Kamis, 13 Juni 2013
Lebih Mudah Pura-pura Mencintai Dari Pada…
Kepura-puraan.
Setiap hari kita melihat kepura-puraan. Orang berpura-pura sedih, pura-pura mencinta, pura-pura terharu. Bahkan dalam hal tertentu, kepura-puraan menjadi ladang penghasilan (yang aku maksud adalah pesinetron dan sinetron yang tayang di layar kaca, hehe).
Namun dalam kehidupan sehari-hari, kepura-puraan atau bahkan akting terkadang mau tidak mau kita lakonkan. Tak soal apakah akting kita itu kualitasnya seperti pemenang Piala Oscar, atau mirip dengan akting pesinteron kita yang ekspresi wajah untuk marah, terkejut dan bingung sama: membelalakkan mata.
Dan berdasarkan yang aku alami, ternyata lebih mudah untuk pura-pura mencintai daripada pura-pura membenci. Pura-pura mencintai lebih mudah aktingnya. Sementara pura-pura membenci, lebih sukar dilakukan karena perasaan sebenarnya sukar disembunyikan.
Dan berdasarkan pengalaman seorang teman, aku mendapati kenyataan bahwa lebih mudah untuk pura-pura bego dibanding pura-pura pintar. Lebih mudah kita berlagak tak tahu dibanding sok tahu.
Kalau kita bersikap tak tahu, lawan bicara akan sukar mengetahui kalau kita benar-benar tak tahu atau pura-pura tak tahu. Sebaliknya, jika kita pura-pura tahu (padahal tidak), tak perlu waktu lama bagi pihak yang tahu untuk tahu bahwa kita sebenarnya tidak tahu. Sementara di pihak lain kita tidak tahu kalau lawan bicara sudah tahu bahwa kita tidak tahu.
p.s.
Tulisan ini didasarkan pada true story, tapi aku bingung bagaimana menulisnya, dan aku tidak tahu apakah teman-teman akan tahu apa yang aku tahu
Mungkin sebaiknya aku makan tahu aja ya? hehehehe
Sabtu, 23 Maret 2013
Lagu Baru ST 12 - Bidadari Bumi
ST 12 - Bidadari Bumi
Lirik:
Tidakkah engkau lihat jendela hati
Terbuka untukmu menahan derita rasa
Harap cemasku menantikan sosok dia
Aku yang mencari sebuah penggalan cinta
Aku yang tak mampu meredam derita hati
Menunggu bidadari turun kebumi
Sungguh ku tak bisa tak bisa takkan pernah bisa menanti
Sungguh ku tak akan pernah bisa
Jauh kumelangkah mencari jalannya cinta
Sungguh pahit perih kurasakan
Jauh ku berjalan menyusuri gelap malam
Sampai kapan ku harus menunggu
yang mau mendengarkan langsung lagunya silahkan download link dibawah:
ST 12_ Bidadari Bumi
Minggu, 17 Maret 2013
Lagu Baru Dadali - Disaat Sendiri
Dadali - Disaat Sendiri
Selasa, 05 Maret 2013
Semua Peristiwa Baik dan Buruk Selalu Ada Signalnya.
Selamat pagi, siang, sore dan malam sahabat....
Suatu ketika, ada sebuah kapal yang tenggelam diterjang badai. Semuanya porak poranda.Tak ada awak yang tersisa, kecuali satu orang pria yang berhasil mendapatkan pelampung. Namun, nasib baik belum berpihak pada pria ini. Dia terdampar pada sebuah pulau kecil tak berpenghuni, sendiri, dan tak punya bekal makanan.
- Dia terus berdoa pada Tuhan untuk menyelamatkan jiwanya. Setiap saat, dipandangnya ke penjuru cakrawala, mengharap ada kapal yang datang merapat. Sayang, pulau ini terlalu terpencil. Hampir tak ada kapal yang mau melewatinya.
- Lama kemudian, pria ini pun lelah untuk berharap. Lalu, untuk menghangatkan badan, ia membuat perapian, sambil mencari kayu dan pelepah nyiur untuk tempatnya beristirahat. Dibuatnya rumah- rumahan, sekedar tempat untuk melepas lelah. Disusunnya semua nyiur dengan cermat, agar bangunan itu kokoh dan dapat bertahan lama.
- Keesokan harinya, pria malang ini mencari makanan. Dicarinya buah- buahan untuk penganjal perutnya yang lapar. Semua pelosok dijelajahi, hingga kemudian, ia kembali ke gubuknya. Namun, ia terkejut. Semuanya telah hangus terbakar, rata dengan tanah, hampir tak bersisa. Gubuk itu terbakar, karena perapian yang lupa dipadamkannya. Asap membubung tinggi, dan hilanglah semua kerja kerasnya semalam. Pria ini berteriak marah, Ya Allah, mengapa Kau lakukan ini padaku. Mengapa.? Mengapa ?. Teriaknya melengking menyesali nasib.
- Tiba-tiba.terdengar peluit yang ditiup. Tuittt..tuuitttt. Ternyata ada sebuah kapal yang datang. Kapal itu mendekati pantai, dan turunlah beberapa orang menghampiri pria yang sedang menangisi gubuknya ini. Pria ini kembali terkejut, ia lalu bertanya, Bagaimana kalian bisa tahu kalau aku ada disini ? Mereka menjawab, Kami melihat simbol asapmu.
- Teman, sangat mudah memang bagi kita, untuk marah saat musibah itu tiba. Nestapa yang kita terima, tampak akan begitu berat, saat terjadi dan berulang-ulang. Kita memang bisa memilih untuk marah, mengumpat, dan terus mengeluh. Namun, teman, agaknya kita tak boleh kehilangan hati kita. Sebab, Allah selalu ada pada hati kita, walau dalam keadaan yang paling berat sekalipun.* SUATU MUSIBAH, PASTI ADA HIKMAHNYA *
Dan teman, ingatlah, saat ada asap dan api yang membubung dan terbakar dalam hatimu, jangan kecil hati. Jangan sesali semua itu. Jangan hilangkan perasaan sabar dalam kalbumu. Sebab, bisa jadi, itu semua adalah sebagai tanda dan simbol bagi orang lain untuk datang padamu, dan mau menolongmu. Sebab, untuk semua hal buruk yang kita pikirkan, akan selalu ada jawaban yang menyejukkan dari- Nya. Tuhan Maha Tahu yang terbaik buat kita. Jangan hilangkan harapan itu.
Smoga bermanfaat teman.
Wassalamu'alaikum....
Senin, 04 Maret 2013
Berdosa Gak Kalau Pacaran Ciuman? Ini Jawabannya
Pacaran... Istilah pacaran tidak bisa lepas dari remaja, karena salah satu ciri remaja yang menonjol adalah rasa senang kepada lawan jenis disertai keinginan untuk memiliki.
Pada masa ini, seorang remaja biasanya mulai "naksir" lawan jenisnya. Lalu ia berupaya melakukan pendekatan untuk mendapatkan kesempatan mengungkapkan isi hatinya.
Setelah pendekatannya berhasil dan saling cinta, biasanya keduanya mulai berpacaran.Di kalangan remaja sekarang ini, pacaran menjadi identitas yang sangat dibanggakan. Biasanya seorang remaja akan bangga dan percaya diri jika sudah memiliki pacar. Sebaliknya remaja yang belum memiliki pacar dianggap kurang gaul. Karena itu, mencari pacar dikalangan remaja tidak saja menjadi kebutuhan biologis tetapi juga menjadi kebutuhan sosiologis. Maka tidak heran, kalau sekarang mayoritas remaja sudah memiliki teman spesial yang disebut "pacar", Lalu bagaimana pacaran dalam pandangan Islam?
Istilah pacaran sebenarnya tidak dikenal dalam Islam. Untuk istilah hubungan percintaan antara laki-laki dan perempuan pranikah, Islam mengenalkan istilah "khitbah (meminang)" yaitu ketika seorang laki-laki menyukai seorang perempuan, maka ia harus mengkhitbahnya dengan maksud akan menikahinya pada waktu dekat. Selama masa khitbah, keduanya harus menjaga agar jangan sampai melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Islam. Dan baca
juga tentang Nama Anak-Anak Iblis tugasnya apa saja sih? yang tugasnya adalah supaya kita terhasut melakukan zina.
Seperti berduaan, memperbincangkan aurat,
menyentuh, mencium, memandang dengan
nafsu dan melakukan selayaknya suami istri.
mencium wanita yang bukan mahram dan bukan istrinya adalah perbuatan terlarang. Hal itu termasuk perkara yang mendekatkan seseorang pada zina.
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Telah tertulis atas anak-anak keturunan Adam bagian mereka dari perbuatan zina. Niscaya dia akan mendapatinya. Kedua mata, zinanya adalah melihat. Kedua telinga, zinanya adalah mendengar. Lisan, zinanya adalah berbicara. Tangan, zinanya adalah menyentuh. Kaki, zinanya adalah melangkah. Dan hati zinanya dengan berharap dan berkhayal. Dan hal itu dibenarkan oleh kemaluan atau didustakan.” (HR. Bukharino. 6243 dan Muslim no. 2657)
Para pria muslim diminta untuk menundukkan pandangan dari aurat wanita, juga dilarang
menatap wanita dengan syahwat. Terlarang ia melanggar hal itu, apalagi sampai menciumnya. Tapi tidak dipungkiri pada zaman sekarang ini hal itu sudah dipandang biasa. Itu semua karena pengaruh dari budaya luar. Itu semua tergantung dari kita sendiri. Kita mau melangkah ke perbuatan maksiat atau tidak. Kita melakukan perbuatan itu berarti kita siap untuk mempertanggungjawabkan semua itu diakhirat nanti.
Senin, 13 Agustus 2012
Bulan September pabrik Nokia di Finlandia di tutup, Nokia akan jadi kenangan.
Pabrik yang berlokasi di daerah Salo itu telah berhenti memproduksi ponsel sehari sebelumnya. Menurut jadwal, pabrik akan resmi ditutup bulan September mendatang.
Sebagai akibatnya, sekitar 780 karyawan Nokia akan kehilangan pekerjaan mereka. Ponsel Nokia yang sempat merajai pasaran selama lebih dari satu dekade pun tak lagi bisa menyandang predikat "made in Finland".
Nokia sedang berusaha melakukan penghematan setelah terus merugi selama beberapa kuartal terakhir. Juni lalu produsen ponsel ini mengumumkan rencana merumahkan sekitar 3.700 pekerjanya di Finlandia.
Sebanyak 10.000 karyawan Nokia di seluruh dunia terancam diberhentikan menjelang akhir 2013.
Rencana penghematan lainnya melibatkan penutupan fasilitas riset dan pengembangan Nokia di Kanada dan Jerman.
Nokia mengatakan bahwa penutupan kedua fasilitas itu, bersama dengan pembubaran pabrik terakhir di Finlandia, bisa menghemat uang hingga 2 miliar dollar AS sampai akhir tahun depan.
sumber : Kerinci
Bulan September pabrik nokia di Finlandia di tutup,nokia akan jadi kenangan 9out of 10 based on 10 ratings. 9 user reviews.
Minggu, 12 Agustus 2012
Kata-Kata SMS ucapan Lebaran Idul Fitri 2012
ada kata menusuk sukma.
ada tingkah menoreh luka.
Mohon di maafkan segala kekhilafan.
Met lebaran 2012.
Minal Aidzin Wal Faidzin.
Mohon Maaf Lahir Batin
No Card, No Ketupat, No Parcel,
Just SMS Represents Everything ...
Sins...
Laugh..
Tears..
Happy 'iedul Fitrie 143.. H...
Maaf lahir batin ya..
Kata-kata ku tlah banyak menyakitimu,
perbuatanku tlah bnyak melukaimu.
di hari nan fitri ini, ijinkan kuucapkan
"TAQOBBALALLAHUMINNA WA MINKUM",
minal aidzin wal faidzin,
mohon maaf lahir & bathin
teruntuk semua nya
diri ini hanyalah manusia biasa
yang tak luput dari segala khilaf dan
dosa serta prasangka
di penghujung bulan yang penuh berkah
ini saya selaku pembuat onar serta
kesalahan memohon maaf atas segala perilaku, ucapan, tingkah laku serta prasangka baiik yang
disengaja maupun ngga
semoga amal ibadah kita di bulan yang penuh berkah ini diterima oleh Nya dan
semoga kita kembali di pertemukan
dengan bulan yang penuh berkah ini.
Smburat jingga tampak kemuning,
putih awan hadirkan suci..
hapuskan dendam,, leburkan angkuh,,
jemput ridho tuk terlahir kembali.
maaf lahir batin ya.
Taqobbalallahu Minna Wa Minkum
Walau jemari tak kuasa berjabat,
setidaknya kata masih dapat terungkap
tulus.
Maafin segala kesalahan aku ya!,
Taqaballahu minna waminkum.
MET IDUL FITRI. MAAF LAHIR BATIN
Di hari yg V3 ini mari kita INSTALL
ulang tujuan hidup kita.
Klo perlu FORMAT ulang jalan hidup kita.
UPDATE database ilmu, SCAN virus2 dlm
hati. OVERCLOCK amal kebaikan kita.
SMS Idul Fitri Terbaru 2012
Sebening fiber optik,
sebersih sinyal wifi,
dgn segala kerendahan hati
mari kita buka bandwith maaf
sebesar-besarnya di hari yg fitri ini.
Mungkin hari-hari yang lewat
telah menyisakan sebersit kenangan
yang tak terlupa..
ada salah,
ada khilaf,
ada dosa yang mengikuti perjalanan hari
– hari itu.
agar tak ada sesal,
tak ada dendam,
tak ada penyesalan.
mari kita sama-sama sucikan hati, diri,
dan jiwa kita.
Aduh, duh, duh, aye mesti berkata apa
ye..
Puisi ude kebanyakan.
Sajak ude pasaran.
Ampir semua SMS bunyinye sama aje.
Pokoknye maap, maap, maap.
Maapin semua kesalahan aye ye..
Cinta
Apakah engkau benar nyata,
Atau cuma halusinasi semata
Jika benar engkau nyata,
Biarkan aku merasa,
Jika cuma halusinasi,
Kuharap semua hanya mimpi....
Cinta..
Sekian lama aku mendamba,
Sekian waktu aku menunggu,
Dengan sejuta harap,
Dengan sejuta hasrat,
Akan hadirmu dihatiku,
Yang kan memberiku rasa,
Yang kan menghiasi hidupku dengan sejuta warna
Cinta..
Datanglah dengan indahmu,
Hadirlah dengan pesonamu,
Sapalah hatiku dengan kata mesramu,
Sentuhlah jiwaku dengan kehangatan....
Selasa, 24 Juli 2012
Kerajaan Malayu Dharmasraya
Sumber Berita Cina
Dikalahkan Sriwijaya
Tentang Raja Chan-pi
Munculnya Wangsa Mauli
Daerah Kekuasaan Dharmasraya
Sepasang Putri Malayu
Dharmasraya Zaman Majapahit
Kepustakaan
- Marwati Poesponegoro & Nugroho Notosusanto. 1990. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka
- R.M. Mangkudimedja. 1979. Serat Pararaton Jilid 2. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah
- Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara
- Slamet Muljana. 2005. Runtuhnya Kerajaan Jindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara (terbitan ulang 1968). Yogyakarta: LKIS
- Slamet Muljana. 2006. Sriwijaya (terbitan ulang 1960). Yogyakarta: LKIS
Sejarah Kerajaan Dharmasraya dari Berbagai Versi
Kerajaan Siguntur Minta Peninggalan Kerajaan Dipindahkan ke Dharmasraya
Dharmasraya:Kerajaan Siguntur, yang mengklaim masih turunan Kerajaaan Dharmasraya, mengusulkan kepada pemerintah untuk membuat duplikat Patung Bhairawa dan Patung Amoghapasa dan memindahkan semua penemuan di Dharmasraya yang kini tersimpan di Museum Adityawarman Padang dan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala, Batusangkar, ke Siguntur, Dharmasraya.Tuan Putri Marhasnida, salah seorang pewaris Kerajaan Siguntur, mengatakan pihaknya juga meminta didirikan museum mini di tepi Sungai Batanghari di Siguntur untuk tempat menyimpan benda-benda sisa Kerajaan Dharmasraya.
"Bila museum mini ini terwujud, sekaligus sebagai pusat informasi peninggalan Kerajaan Dharmasraya dan Kerajaan Siguntur." katanya.
Nurmatias, Kepala Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang yang membawahi Sumatera Barat, Bengkulu, dan Sumatra Selatan, setuju dengan rencana pihak Kerajaan Siguntur.
"Dharmasraya tak hanya kekayaan arkeologis Sumatera Barat, tapi Indonesia. Pendirian museum di Kabupaten Dharmasraya ini bagus agar harta kerajaan yang tersimpan di masing-masing kerajaan tidak hilang, sebab dikhawatirkan kalau disimpan sendiri-sendiri lama-lama hilang," ujarnya.
Selain Kerajaan Siguntur, juga ada kerajaan kecil setelah Islam yang juga mengaku berhubungan dengan Kerajaan Dharmasraya pra-Islam. Kerajaan-kerajaan itu adalah Kerajaan Koto Besar, Kerajaan Pulau Punjung, Kerajaan Padang Laweh, dan Kerajaan Sungai Kambut yang masing-masing juga memiliki sejumlah peninggalan kuno.
Sejarah Kerajaan Dharmasraya
Hanya ada sedikit catatan sejarah mengenai Dharmasraya ini. Diantaranya yang cukup terkenal adalah rajanya yang bernama Shri Tribhuana Raja Mauliwarmadhewa (1270-1297) yang menikah dengan Puti Reno Mandi. Sang raja dan permaisuri memiliki dua putri, yaitu Dara Jingga dan Dara Petak.
Setelah Kerajaan Sriwijaya musnah di tahun 1025 karena serangan Kerajaan Chola dari India, banyak bangsawan Sriwijaya yang melarikan diri ke pedalaman, terutama ke hulu sungai Batang Hari. Mereka kemudian bergabung dengan Kerajaan Melayu Tua yang sudah lebih dulu ada di daerah tersebut, dan sebelumnya merupakan daerah taklukan Kerajaan Sriwijaya. Pada tahun 1088, Kerajaan Melayu Jambi menaklukan Sriwijaya. Situasi jadi berbalik di mana daerah taklukannya adalah Kerajaan Sriwijaya.
Dara Jingga
Di tahun 1288, Kerajaan Dharmasraya, termasuk Kerajaan Sriwijaya, menjadi taklukan Kerajaan Singhasari di era Raja Kertanegara, dengan mengirimkan Adwaya Brahman dan Senopati Mahesa Anabrang, dalam ekspedisi Pamalayu 1 dan 2. Sebagai tanda persahabatan, Dara Jingga menikah dengan Adwaya Brahman dari Kerajaan Singasari tersebut. Mereka memiliki putra yang bernama Adityawarman, yang di kemudian hari mendirikan Kerajaan Pagaruyung, dan sekaligus menjadi penerus kakeknya, Mauliwarmadhewa sebagai penguasa Kerajaan Dharmasraya berikut jajahannya, termasuk eks Kerajaan Sriwijaya di Palembang. Anak dari Adityawarman, yaitu Ananggawarman, menjadi penguasa Palembang di kemudian hari. Sedangkan Dara Jingga dikenal sebagai Bundo Kandung/Bundo Kanduang oleh masyarakat Minangkabau.
Dara Petak
Di tahun 1293, Mahesa Anabrang beserta Dara Jingga dan anaknya, Adityawarman, kembali ke Pulau Jawa. Dara Petak ikut dalam rombongan tersebut. Setelah tiba di Pulau Jawa ternyata Kerajaan Singasari telah musnah, dan sebagai penerusnya adalah Kerajaan Majapahit. Oleh karena itu Dara Petak dipersembahkan kepada Raden Wijaya, yang kemudian memberikan keturunan Raden Kalagemet yang bergelar Sri Jayanegara setelah menjadi Raja Majapahit kedua.
Sekilas Tentang Sejarah Kerajaan Dharmasraya
Kawasan kepurakalaan daerah aliran sungai (DAS) Batanghari meliputi wilayah administrasi pemerintahan kerajaan Dharmasraya. Secara geomarfologis termasuk daerah perbukitan bagian Barat Sumatera yang dikenal dengan bukit barisan.Kawasan situs tersebut terletak disatuan marfologi dataran dengan kemiringan lereng 0 sampai 2 persen. Tipe iklim kering tengah tahun (mid year dry climate) dengan curah hujan rata-rata per tahunnya kurang dari 2500 mm.
Sejarah Kerajaan
Dalam catatan sejarah, wilayah sepanjang DAS Batanghari di pedalaman dikuasai kerajaan Melayu dan Sriwijaya yang memerintah hampir bersamaan. Kerajaan Melayu dianggap penting masa itu karena eksistensinya diakui oleh beberapa kerajaan termasuk Majapahit. Di dalam naskah kuno Nagarakartagama pupuh XIII:1 dan 2 disebutkan, Dharmasraaya sebagai salah satu kawasan Majapahit. Pada masa raja Kertanegara pusat pemerintahan kerajaan Melayu sudah berada di Dharmasraya dan lokasinya di bagian hulu Batanghari tepatnya di daerah rambahan, Jorong Lubuk Bulang, Nagari IV Koto Pulaupunjung Dharmasraya.
Perubahan pusat pemerintahan ini dapat ditelusuri berdasarkan pada Prasasti Dharmasraya yang dipahatkan pada lapik atau alas kaki Arca Amoghapassa yang sekarang berada di Museum Nasional, Jakarta. Di bagian belakang (punggung) Arca Amoghapasa yang dikirim Kertanegara tercatat tahun 1347 M, raja yang memerintah adalah Sri Maharajadiraja Adityawarman yang menyebut dirinya dengan nama Srimat Sri Udayatityawarman.
Selain itu, dalam catatan sejarah dan naskah Jawa kuno diterangkan Adityawarman merupakan keturunan dari seorang ibu Melayu yang bernama Dara Jingga dengan seorang pejabat kerajaan Singasari bernama Adwayabrahma. Adwayabrahma merupakan pejabat yang dikirim Singasari mengiringi pengiriman Arca Amoghapasa ke Swarnabumi. Mengenai kemunculannya dapat ditemukan dalam Prasasti Kuburajo I yang ditemukan di Lima Kaum, Kabupaten Tanah datar. Sesudah prasasti Amoghapasa 1347 M ini, pusat pemerintahan Kerajaan Melayu Dharmasraya berpindah kearah pedalaman yaitu daerah Kabupaten Tanahdatar dan sekitarnya.(hartanto)
Ahli Waris Raja Dharmasraya, Menjaga Warisan di Tengah Keterbatasan
Dharmasraya yang kini menjadi kabupaten ternyata dulunya nama kerajaan yang berkembang di abad ke-11. Kerajaan ini berpusat di Siguntur, daerah tepian Sungai Batanghari yang merupakan babak penting perkembangan kerajaan Pagaruyung. Bahkan hingga kini raja-raja di Dharmasraya masih menggunakan gelar kerajaan dan memegang tradisi leluhurnya.
Peninggalan peradaban Hindu-Budha di kawasan Siguntur dan juga peninggalan kebudayaan Islam yang sampai sekarang masih memiliki raja-raja dengan tugas dan wilayah tersendiri, sesuai aturan turun temurun. Menurut, ahli waris Kerajaan Dharmasraya Putri Marhasnida, di Dharmasraya terdapat lima raja yang masih memegang gelar kerajaannya dan masing-masing raja memegang peranan dalam melaksanakan tugas.
Di antara raja-raja yang pernah berkuasa yakni Raja Alam, berkuasa di Kerajaan Siguntur dengan gelar Tuanku Bagindo Ratu, Raja Adat di Kerajaan Sitiung dengan gelar Tuanku Rajo Hitam, Rajo Ibadat di Kerajaan Padang Laweh bergelar Tuanku Bagindo Muhammad, Raja Cermin Taruih di Kerajaan Pulau Punjung gelar Tuanku Sati. Sedangkan di Koto Besar bergelar Sri Sultan Rajo Maharajo.
Tiga Raja Setali
Dalam alur pemerintah terang Marhasnida di Kerajaan Siguntur terdapat tiga raja setali dalam peran yaitu raja alam, raja ibadat, dan raja adat. Raja alam sebagai pengendali alam, menjaga kesimbangan pemerintahan, raja adat berperan mengurus adat sekaligus panglima perang karena kesaktiannya. Raja Ibadat menjadi unsur terpenting dalam menggerakkan ruhiyah masyarakat terutama di bidang agama.
Menurut generasi kedelapan Kerajaan Dharmasraya dari kerajaan Islam yakni Sultan Hendri Tuanku Bagindo Ratu yang merupakan raja alam yang bertahta hingga kini, peranan tersebut masih dipertahankan dengan segala keterbatasan yang ada. Ketiga raja menjadi satu paket penting yang dititahkan dari kerajaan pusat Pagaruyung. Termasuk aset-asetnya masih dijaga dengan segala keterbatasan yang ada.
“Namun karena berbagai kondisi dan keadaan, nilai-nilai sejarah ini hampir terlupakan dan sebagian sudah punah. Kini yang tersisa hanya beberapa saja seperti istana, masjid tua, stempel di wilayah kerajaan,” beber Tuanku Henri. Hal senada diungkapkan raja ibadat yang bertahta di Kerajaan Padanglaweh yakni Sultan Alif Tuanku Bagindo Muhammad. Menurutnya penataan dan penelusuran sejarah harus terus digali sehingga babak-babak terpenting dari kerajaan ini tidak hilang. Salah satu contoh, sempat terputus dan hilangnya ahli waris dari raja adat di Kerajaan Sitiung.
“Memang kita sempat kehilangan ahli waris di kerajaan Sitiung. Setelah ditelusuri akhirnya berhasil ditemukan. Karena itu, butuh keseriusan dalam melestarikan warisan budaya ini. Kini kami sudah mengembangkan tarian kerajaan yakni tari Toga yang sempat hilang,” lanjut Putri Marhasnida menerangkan.
Dua Raja Lain
Jika tiga raja setali dititahkan dari kerajaan pusat di Pagaruyung maka dua raja lain memiliki peran berbeda yang diemban dari Pagaruyung. Raja Carmin Taruih bergelar Tuanku Sati dan bertahta di Pulaupunjung memiliki tugas mengawasi dan menarik pajak atau upeti dari daerah yang diperintahkan kerajaan pusat. Tetapi dalam masa kerjanya juga harus sesuai dengan persetujuan dengan raja alam.
Lain halnya dengan Kerajaan Koto Besar sebagai merupakan daerah khusus yang diberikan kepada keluarga raja yang tertimpa musibah penyakit. Untuk menghindari hal-hal yang tidak terduga maka raja Pagaruyung memerintahkan salah satu keluarga yang terkena musibah penyakit untuk pergi menetap di daerah Koto Besar. Akhirnya, wilayah ini memiliki kaitan langsung dengan keluarga raja di Pagaruyung dengan gelar Sri Rajo Maharajo.
Bahkan konon kabarnya sampai sekarang, seluruh ahli waris dan keturunanya tidak dapat berkunjung di lokasi Kerajaan Pagaruyung. Apabila hal ini dilanggar maka akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Itulah kenyataan yang ada dan ini benar-benar terjadi pada ahli warisnya.(hartanto)
Peninggalan Kerajaan di Dharmasraya, Sejarah yang Dijarah
Kendati masih berusia muda, Kabupaten Dharmasraya menyimpan sejuta pesona. Dari sana sekitar abad 11 masehi lembar sejarah Kerajaan Melayu bermula. Peninggalan-peninggalan arkeolog seperti candi, artefak, masjid, makam raja-raja dan rumah gadang menjadi saksi bisu sejarah kerajaan Hindu-Budha dan Islam di kabupaten pemekaran itu.
Sayang, kondisinya memprihatinkan, terabaikan dan tak ada yang peduli. Beberapa simpul sejarah yang bisa bercerita akan kondisi miris itu di antaranya peninggalan arkeolog kerajaan Hindu-Budha dan Islam yang tersebar di Nagari Siguntur, Padanglaweh dan Pulaupanjang. Parahnya lagi rentetan ekspedisi Pamalayu itu tidak diketahui masyarakat. Masyarakat cenderung apriori dengan sejarah di daerah tersebut, termasuk mahasiswa. “Ambo lai tahu ado situs bersejarah di Siguntur tapi alun ado ke sinan soalnyo ndak tontu apo nan dicari (saya tahu ada situs bersejarah di Siguntur, tapi belum pernah ke sana. Tidak tahu apa yang mau dicari) ,” ujar Peldi, mahasiswa asal Dharmasraya.
Masyarakat sekitar pun ternyata banyak yang tak kenal dengan sejarah bahkan terkesan tidak peduli. Bayangkan saja, batu-batu situs sejarah itu pernah mereka diperjualbelikan untuk membangun rumah-rumah mereka. Baru tahun 1994, setelah mendapat izin pelestarian dan penggalian serta pelarangan untuk mengambil dan merusak, situs bersejarah dapat mulai terpelihara. “Mano kami tahu, kalau tumpukan bata itu bangunan candi. Jadi kini batu-batu bata, lah menyebar ke mano-mano, ambo turuik juo maangkek untuk dijua (Mana kami tahu kalau tumpukan batu itu candi. Sekarang batu batanya sudah menyebar ke mana-mana, saya juga ikut mengangkat batu-batu itu untuk dijual),” kata Azis, Ketua Pemuda Sungai Lansek.
Istana Raja: Nagari Siguntur di Dharmasraya banyak menyimpan peninggalan sejarah, salah satunya Istana Raja Siguntur.
Menurut Aziz, saat arca Bhairawa ditemukan sudah terdapat kerusakan. Kakinya yang satu berbeda dengan yang lain terdapat lekukan dan ukurannya lebih kecil. Sebab, sebelumnya salah satu kaki arca itu sering dijadikan batu asah sabit, pisau dan parang oleh para pengembala kerbau. Hal ini dibenarkan Kepala Jorong Sungai Lansek, Bachtiar. Penemuan arca di samping rumahnya menjadi indikasi benda-benda bersejarah tersebut berserakan. Padahal kalau dikelola dengan baik memiliki potensi parawisata yang luar biasa. Terbukti, wisatawan selalu datang bergantian mengunjunginya, terutama para peneliti sejarah baik dalam maupun luar negeri.
Sementara itu, Kepala Jorong Sungai Lansek, Bactiar (50) sangat menyayangkan kurangnya perhatian pemerintah terhadap pengelolaan situs purbakala. Jalan setapak menuju lokasi masih tanah dan kala hujan turun akan becek sehingga susah diakses. Belum lagi di sekitar lokasi sudah banyak lahannya yang beralih fungsi menjadi ladang masyarakat. Padahal di tempat itu sudah teridentifikasi menyimpan peninggalan-peninggalan bersejarah. Masalah penerangan listrik PLN yang belum masuk, membuat lokasi yang pernah menjadi bagian dari ekspedisi Kerajaan Singosari yang berlokasi di seberang Batanghari itu agak terpinggirkan dan kian suram.
“Jika diperhatikan Pemkab tentu banyak wisatawan yang bakal berkunjung. Dari situ kami bisa mendapatkan tambahan pendapatan. Apalagi dalam sebulannya sekitar 150 wisatawan berkunjung. Bahkan tak jarang wisatawan datang rombongan dalam jumlah besar,” terang Bactiar. Sementara itu, Drs. Nopriyasman, M.Hum dari Jurusan Sejarah Unand Padang melihat sikap tak peduli masyarakat terhadap situs dan sejarah sudah berlangsung dari dulu. Kondisi ini terjadi karena kurangnya informasi dan penghargaan sekaligus bentuk sikap penolakan masyarakat terhadap hal-hal yang berbau Hinduisme. “Padahal itu bagian dari sejarah yang mesti disosialisasikan kepada masyarakat sebagai bukti Sumbar pun pernah menjadi pusat kerajaan. Karena selama ini tidak hanya pemerintahan yang sentralistis dan Jawa sentris tetapi budaya Indonesia pun seakan-akan budaya Jawa saja,” bebernya.
Semangat ini, tambah Nopriyasman, bukan untuk memunculkan sikap provinsialisme tetapi membangun kesadaran bersama bahwa budaya Indonesia merupakan keragaman budaya yang tersebar di Nusantara bukan Jawa semata. Hal ini sangat penting dalam menguatkan rasa kebangsaan melalui pemahaman yang utuh terhadap sejarah. Karena itu, kita meminta pemerintah harus segera memberikan perhatian penuh terhadap sejarah dan benda-benda peninggalannya sehingga tidak terjadi pengikisan secara terus menerus. Hal ini bisa dilakukan melalui kerjasama dengan balai sejarah, perguruan tinggi dan lembaga lainnya melakukan penelitian, penulisan dan pembukuan sejarahnya.
“Malahan catatan sejarah itu harus dimasukkan dalam muatan lokal sehingga generasi muda bisa mengetahui dan memahaminya. Malahan untuk benda-benda peninggalan kerajaan harus dibuatkan museum kecil agar terawat dengan baik. Dan kedepan Pemkab harus berpikir mengalokasikan anggaran untuk semua kegiatan itu,” tandasnya. Kendati demikian, kata Nopriyasman, Pemerintah harus tetap hati-hati dalam melakukan pemugaran dan menghilangkan keasliannya karena daya tariknya bakal berkurang. Apalagi selain menjaga keutuhan sejarah dan benda-benda purbakala pemugaran ini penting pula untuk mendorong berkembangnya wisata sejarah. “Jadi pemerintah sebetulnya tidak perlu ragu dalam mengalokasikan anggaran untuk itu. Karena kalau sudah terawat dengan baik tentu bakal banyak wisatawan yang berkunjung. Minimal akan menjadi objek penelitian dan itu akan menjadi sumber pendapatan daerah,” ujarnya.
Sementara itu Kepala Dinas Perhubungan dan Pariwisata Kabupaten Dharmasraya, Agani mengakui, situs-situs bersejarah itu belum dapat dioptimalkan pemeliharannya dan sekaligus menjadikannya sebagai objek wisata. Namun ia menegaskan, secara bertahap akan mengelola melalui bidang parawisata. “Kita sadar bahwa situs-situs purbakala ini bisa menjadi salah satu objek wisata yang bisa mendatangkan pendapatan daerah, tapi kita butuh proses untuk melakukannya,” ujarnya. (*)
Wisata Sejarah yang Terlupakan, Perpaduan Hindu-Budha dan Islam nan Mempesona
Perpaduan Hindu-Budha dan Islam di ranah Dharmasraya menjadi pesona wisata sejarah tersendiri di kabupaten termuda Sumbar itu. Sayang, catatan sejarah itu belum banyak terekspos dan dibukukan. Padahal masih banyak peninggalan-peninggalan kerajaan yang pantas untuk dikaji dan ditelusuri. Malahan keturunan raja-raja Dharmasraya yang berpusat di beberapa daerah masih bisa kita temui.
Berbagi cerita sambil mengenal kembali sejarah bangsa. Menuju situs bersejarah itu, penuh dengan tantangan dan pesona. Lokasi masing-masing situs yang terbelah Sungai Batang Hari menjadi daya tarik tersendiri untuk dikunjungi. Lagi-lagi sayang, daerah tersbeut nyaris tak tersentuh dan belum terkelola dengan baik menjadi wisata sejarah. Itu pula yang terus menerus melucur dari bibir para turis yang sering berkunjung. Akses transportasi satu kendala yang hingga kini belum teratasi. Lokasinya nan jauh dari jalan lintas Sumatera membuatnya sulit terjangkau para wisatawan. Menggapai Kerajaan Siguntur sebagai salah satu pusat kerajaan harus ditempuh dengan ojek dari Simpang Sikabah. Padahal jaraknya hanya 4 kilometer. Untungnya, rasa letih dan dahaga akan tak bakal terasa ketika menemui masjid tua, istana dan kuburan para raja dari kerajaan Islam. Tak puas dengan situs peninggalan kerajaan Islam, kita bisa meneruskan perjalanan ke lokasi situs peninggalan kerajaan Hindu-Budha di Jorong Sungai Lansek. Terdapat dua jalur untuk menggapainya di antaranya jalur Sungai Batanghari, Siguntur menggunakan perahu boat atau disebut “ tempek” sejauh 3 kilometer dengan perjalanan selama 15 menit.
“Bisa juga melalui jalur Koto Tuo menggunakan perahu “Ponton” atau besi panyubarangan. Ongkosnya relatif murah jika dibandingkan menggunakan perahu “tempek”,” ujar Ibarhim (53), salah seorang tokog Siguntur. Selama dalam perjalanan akan dijumpai pemandangan yang indah dan aktivitas ekonomi masyarakat sepanjang sungai Batanghari. Beragam aktifitas masyarakat bakal terlihat mulai dari pencarian ikan, pengerukan pasir, batu dan sebagai lintas transportasi. Tentu hal ini akan memberi kesan tersendiri bagi para pencinta petualangan alam nan menyegarkan. Kala kita sampai di dermaga penyeberangan harus siap-siap jalan kaki sejauh 1,5 km untuk sampai ke candi Padang Roco. Perjalanan ini melewati perkampungan masyarakat Siluluk dan Sungai Lansek yang ramah terhadap setiap pengunjung. Selepas itu bisa melanjutkan perjalanan dengan menaiki perahu “tempek” menuju Pulau Sawah. Di sana kita bisa temui peninggalan dan kekayaan zaman Hindu-Budha.
Belum lagi, kalau perjalanan wisata dilanjutkan ke daerah Padang Laweh. Wisatawan akan dimanjakan dengan pemandangan bahari Batanghari. Di sana kita akan melihat situs Padang Laweh dan rumah Gadang serta beramah tamah dengan Raja Ibadat yang bergelar Sutan Alif Bagindo Muhammad. Biar tak penasaran perjalanan harus dituntaskan hingga Pulaupunjung. Selain keindahan hulu Batanghari yang sekarang menjadi pusat bendungan irigasi Batanghari, pengunjung bisa menyusuri lokasi situs rambahan di lubuk Bulang, rumah gadang Pulaupunjung dan Sungai Kambut serta bertemu langsung dengan Raja camin taruih yakni Bagindo Alimuddin Tuanku Sati. Terakhir menuju daerah Koto Besar yang sampai sekarang masih ada keturunannya.
N. Hartanto http://www.padangekspres.co.id
RADEN WIJAYA
Malam Penobatan Uda-Uni Duta Dharmasraya Meriah
| Kabupaten - Kab, Dharmasraya |
| Friday, 10 June 2011 22:01 |
|
Kemeriahan ini tak lepas dari dukungan dan support yang diberikan oleh para pendukung masing-masing finalis Uda Uni Dharmasraya 2011. Selain itu juga, acara ini turut dimeriahkan oleh artis ibu kota, Tari KDI dan Sisilia. Para undangan yang hadir di Audithorium Dharmasraya dibuat terpukau oleh penampilan Ny. Eri Subagio dengan alunan suaranya yang merdu dan goyangan cha-cha nya. Selain itu juga tak kalah menariknya Bupati Adi Gunawan, unsure muspida beserta istri, dan tokoh masyarakat Dharmasraya ikut bergoyang cha-cha. Para hadirin dan undangan dibuat deg-degan dan berdebar ketika ketua dewan juri, Syafruddin Putra,M.Si Dt.Sanggono membacakan hasil akhir yang berhak menyandang gelar Uda Uni Duta Wisata Kabupaten Dharmasraya 2011. Dalam grand final yang diikuti oleh 36 finalis ini, keluar sebagai penyandang Uda Dharmasraya tahun 2011, Rezi Putra Pratama yang berasal dari Sitiung. Sedangkan Uni Dharmasraya tahun 2011 diraih oleh Mona Putri Rahmi, SS yang berasal dari Koto Baru. Para pemenang ini mendapatkan hadiah berupa uang tunai masing-masing Rp2 juta rupiah ditambah piagam dan piala serta mendapatkan bonus dari Bupati Adi Gunawan dan istri masing-masing Rp2,5 juta. Untuk Wakil I Uda Dharmasraya disandang oleh Hari Suseno Aditya dari Sikabau dan Wakil I Uni Dharmasraya disabet oleh Annisa trisna dari Gunung Medan. Ke duanya memperoleh hadiah uang tunai masing-masing Rp1,75 juta ditambah piala dan piagam. Sedangkan untuk juara Wakil II Uda Dharmasraya disabet oleh Afrizal yang berasal dari Pulau Punjung, dan Wakil II Uni Dharmasraya disabet oleh Mice Haroline, S.Pd yang juga berasal dari Pulau Punjung.Kedua pemenang ini memperoleh hadiah uang tunai masing-masing Rp1.5 juta ditambah piala dan piagam. Penyandang gelar Uda Harapan I disandang oleh Trio Nanda yang berasal dari Pulau Punjung, dan untuk Uni Harapan I didapat oleh Revi Dotu Shilvena dari Sitiung dan mendapatkan hadiah berupa uang tunai masing-masing Rp1.250.000 ditambah piala dan piagam. Difo R.Putra yang berasal dari Koto Baru berhasil menyabet gelar Uda Harapan II dan Hanifah Diah P yang berasal dari Sikabau sebagai Uni Harapan II nya. Mereka berhak untuk mendapatkan uang tunai masing-masing Rp1.000.000 ditambah piala dan piagam. Sebagai Uda Persahabatan berhak diraih oleh Ade Putra dari Kecamatan Tiumang dan Ega Angela Jades sebagai Uni Persahabatannya, dan keduanya mendapatkan uang tunai masing-masing Rp750.000 ditambah piala dan piagam. Akhirnya Hargen Tahta dari Sungai Dareh dan Nurfadila yang berasal dari Sitiung menutup semua gelar yang diperebutkan dalam ajang ini sebagai Uda dan Uni favorit. Keduanya juga berhak untuk mendapatkan hadiah uang tunai masing-masing Rp750.000 ditambah Piala dan piagam. Selempang Uda Uni Dharmasraya disematkan langsung oleh Bupati Adi Gunawan dan Ketua Dekranasda Kas Adi Gunawan kepada penyandang gelar Uda Uni Dharmasraya Duta Wisata Dharmasraya 2011. Bupati Adi Gunawan dalam sambutannya menyatakan sangat mendukung sekali kegiatan Uda-Uni Duta Wisata Dharmasraya tahun ini. "Pemerintah Daerah Kabupaten Dharmasraya betul-betul menjadikan event ini sebagai tempat penggemblengan, membina jati diri dan penggodokan karakter dan kepribadian generasi muda untuk menatap hidup ke depan agar lebih baik dan bisa bersaing di era globalisasi," kata Adi. Pemilihan Uda Uni, tambahnya, dilaksanakan dalam rangka memilih duta wisata Dharmasraya yang mempunyai indikator khusus di antaranya wawasan, kepribadian, komunikasi, dan kemampuan mengembangkan seni dan budaya Kabupaten Dharmasraya kepada dunia luar. Selain itu, menurut Bupati, kegiatan ini merupakan ajang pembelajaran dan tempat menimba ilmu pengetahuan, baik berupa ilmu agama, pengetahuan umum, adat istiadat dan pariwisata budaya, serta dapat menjadi penyaluran bakat dan minat bagi generasi muda. Selain itu, juga sebagai ajang untuk mempromosikan kebudayaan daerah, wisata serta kuliner khas Dharmasraya ke dunia luar. Bupati diakhir sambutannya menghimbau kepada pemenang agar tetap belajar dan berkarya, jangan cepat puas dengan hasil yang telah di dapat. Sementara bagi yang belum beruntung pada ajang tahun ini, agar tidak berkecil hati dan putus asa karena tahun mendatang masih ada kesempatan.(*) |
Ekspedisi Singgalang I di Dharmasraya, Hadiah Purnama dari Langit
Ini hari ketiga Tim Ekspedisi Singgalang I berada di tepian Batang Hari, Dharmasraya. Berada di kampung terpencil, jauh dari gemerlap perkotaan dan dipisahkan sungai terpanjang di Sumatra, candi yang telah berumur delapan abad lebih, tetap berdiri gagah. Segagah sejarah yang pernah mengitarinya. Candi itu, terpajang elok, tak lapuk dimakan usia. Malam kemarin bangunan masa lampau tersebut, seperti sedang menancapkan sejarah ke bumi lalu menyapa setiap yang lewat di sana. Bangunan candi terdiri tiga buah bangunan. Satu besar, dua candi lainnya berukuran lebih kecil.
Pamalayu
Memasuki lokasi percandian, kita serasa kembali ke abad 12. Membayangkan para abdi istana Kerajaan Hindu Dharmasraya melakukan ritual keagamaan mereka. Kawasan ini dulunya tempat suci. Kami, teringat Ekspedisi Pamalayu yang bersejarah itu. Cerita lebih luas soal ini telah diungkap oleh Rusli Amran dalam bukunya, “Sumatra Barat Hingga Plakat Panjang.” Ekspedisi Pamalayu adalah sebuah operasi militer yang dilakukan Kerajaan Singhasari terhadap Pulau Sumatra pada tahun 1275-1293.
Pada tahun 1286 Kertanagara mengirim arca Amoghapasa untuk ditempatkan di Dharmasraya. Prasasti Padangroco menyebutkan, arca tersebut adalah hadiah persahabatan dari Maharajadhiraja Kertanagara untuk Maharaja Tribhuwanaraja di Dharmasraya.
Prasasti Padangroco juga menyebutkan, arca Amoghapasa diberangkatkan dari Jawa menuju Sumatra dengan dikawal 14 orang, di antaranya ialah Rakryan Mahamantri Dyah Adwayabrahma, Rakryan Sirikan Dyah Sugatabrahma, Payaman Hyang Dipangkaradasa, dan Rakryan Demung Mpu Wira. Kami berada di lokasi candi. Kompleks candi cukup luas juga, empat sampai 6 kali lapangan bola. Terlihat beberapa parit yang cukup lebar dan dalamnya lebih dari satu meter. Banyak ahli menduga, di sinilah pusat Kerajaan Dharmasraya itu. Jika benar, tentu dari sini, dari bukit di sini, pulalah tiap hari, dipantau air Batang Hari yang mengalir tenang, sebuah sungai yang menjadi ‘jalan tol’ masa silam. Sungai yang menjadi jalur sutera, sungai yang mencatat pragmen kehidupan anak manusia dari abad ke abad.
Dipugar
Saat ini, kawasan candi telah dipugar. Masing-masingnya diberi pagar besi dan atap. Agar peninggalan sejarah itu tetap terjaga. Di samping keberadaan candi itu, di daerah ini juga pernah ditemukan berbagai arca. Di antaranya, arca Amongapasha. Tapi, patung yang disebut-sebut duplikat Adityawarman itu, kini sudah tidak ada lagi. Sudah dibawa ke Jakarta dan disemayamkan di Museum Nasional atau yang dikenal dengan Museum Gajah.
Patung itu, tingginya 4,41 meter dan berat 4 ton. Kabarnya, sebagaimana dituturkan penduduk berdiri kukuh di atas bukit menghadap ke timur. Pada 1935, Belanda memboyongnya ke Bukittinggi. Sebuah sejarah besar pernah hadir di sini. Meski selama ini daerah ini masih kurang dikenal, tapi masyarakat sekitar meyakini, beberapa tahun ke depan daerah mereka akan ramai dikunjungi. Terutama untuk wisata sejarah. Wali Jorong Sungai Lansek, Bachtiar, Jumat (13/2), menyebut, arah untuk itu mulai terlihat. Atas prakarsa pemerintah setempat yang mulai membuka akses informasi dan transportasi ke Sungai Lansek.
“Tiang dan kabel listrik sudah terpasang. Jalan baru pun sudah hamper selesai,” katanya.
Meski kedua hal itu belum bisa mereka gunakan, bagi Bachtiar dan warganya cukup menjadikan itu sebuah harapan. Dibandingkan sebelum pemekaran, Sungai Lansek saat ini cukup banyak mengalami kemajuan. Komplek Candi Roco sendiri, mulai banyak dikunjungi orang. Namun mereka yang datang itu, masih sekedar singgah. Sehingga belum banyak memberikan kontribusi berarti bagi masyarakat sekitar.
Padahal candi dan peninggalan cagar budaya lainya apa bila dibenahi lebih maksimal serta dikelola secara profesonal akan dapat menjadi potensi yang cukup besar bagi peningkatan perekonomian masyarakat dan juga dapat mendatangkan divisa bagi pendapatan daerah. Misalnya melakukan pembenahan dengan memperluas komplek candi, serta melengkapi berbagai sarana dan prasarana pendukung seperti, toilet, serta transportasi ke lokasi itu Kemudian melengkapi dengan pergelaran dan pementasan kesenian dan budaya Sumatra Barat sehingga dengan lengkapnya sarana dan prasarana serta adanya pergelaran dan pergelaran kesenian itu akan mengundang daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal maupun mancanegara ke lokasi objek wisata tersebut.
Dengan semakin banyaknya wisatawan yang datang akan banyak membuka lapangan kerja bagi masyarakat, misalnya masyarakat dapat membuka usaha berjualan makanan dan berbagai suvenir. Selain itu, kontribusi untuk PAD bagi Dharmasraya juga dapat di peroleh melalui penjualan karcis masuk. Menurut Bahtiar, peluang itu nampaknya sudah dapat ditangkap oleh Bupati Dharmasraya, H.Marlon Martua DT Rangkayo Mulieh, ketika ia berkunjung ke daerah itu saat HUT Kabupaten Dharmasraya awal tahun lalu menyatakan, Candi Padang Rocok akan berubah dan situs sejarah tersebut akan memberikan dampak cukup besar terhadap masyarakat. Baik secara ekonomi, sosial maupun pembangunan dan pendidikan.
“Bupati akan memugar candi ini. Pembebasan lahan warga sudah mulai disosialisasikan pada warga,” katanya. Dikatakannya, masyarakat Sungai Lansek sangat mendukung upaya bupati tersebut. Tentang pembebasan lahan, tidak masalah. Pemilik lahan tidak keberatan, asal sesuai dengan aturan dan prosedur berlaku. “Kalau bisa, selain memugar candi, juga dibuatkan duplikat arca Amongapasha yang dulunya terdapat di sini dan sekarang di museum Nasional Jakarta. Sehingga pengunjung juga bisa melihat bentuknya langsung dari ‘tempat asalnya’,” katanya.tim
(Sumber: http://www.hariansinggalang.co.id)


